Intermittent fasting atau pola makan dengan jeda waktu tertentu semakin populer karena dianggap lebih mudah dijalani dibanding diet ketat yang membatasi banyak jenis makanan. Banyak orang menyukai metode ini karena fokusnya bukan pada “apa yang dimakan”, melainkan “kapan dimakan”. Ketika tubuh diberi waktu istirahat dari proses pencernaan, sistem metabolisme bekerja dengan cara yang berbeda dan cenderung lebih efisien dalam mengatur energi. Dalam konteks penurunan lemak, intermittent fasting sering dinilai membantu karena mengarahkan tubuh menggunakan cadangan energi lebih optimal.
Cara Intermittent Fasting Memengaruhi Metabolisme Tubuh
Metabolisme adalah proses tubuh mengubah makanan menjadi energi. Saat seseorang melakukan intermittent fasting, tubuh melewati fase setelah makan (fed state) menuju fase puasa (fasted state). Ketika waktu makan berhenti cukup lama, kadar insulin perlahan menurun dan tubuh mulai menggunakan simpanan glikogen. Setelah glikogen menipis, tubuh akan lebih mudah mengakses lemak sebagai sumber energi. Proses ini membuat pembakaran lemak menjadi lebih efektif, terutama bagi orang yang sebelumnya sulit menurunkan lemak karena kebiasaan ngemil atau makan terlalu sering.
Banyak orang salah paham bahwa puasa otomatis memperlambat metabolisme. Faktanya, puasa dalam durasi wajar justru dapat membantu meningkatkan respons hormon tertentu yang berhubungan dengan energi. Tubuh beradaptasi dengan memanfaatkan sumber energi yang tersedia, sehingga pembakaran kalori tetap berjalan baik, khususnya jika asupan nutrisi saat jendela makan tetap terjaga.
Penurunan Lemak Lebih Optimal Karena Kontrol Insulin
Salah satu alasan utama intermittent fasting efektif untuk menurunkan lemak adalah karena pengaruhnya terhadap insulin. Insulin adalah hormon yang berperan mengatur gula darah dan juga berhubungan dengan penyimpanan lemak. Ketika insulin sering tinggi karena terlalu sering makan, tubuh cenderung menyimpan energi dan lebih sulit membakar lemak. Sebaliknya, saat pola intermittent fasting diterapkan, jeda makan membuat insulin turun lebih lama, sehingga tubuh punya kesempatan lebih besar untuk mengakses lemak sebagai bahan bakar.
Selain itu, pola ini juga membantu mengurangi kalori secara alami. Karena waktu makan dibatasi, orang cenderung lebih mudah mengontrol porsi tanpa merasa terlalu dipaksa. Inilah yang membuat intermittent fasting cocok untuk banyak orang yang ingin defisit kalori tanpa harus menghitung setiap detail makanan.
Pola yang Bisa Dicoba Agar Konsisten
Intermittent fasting memiliki beberapa variasi yang umum diterapkan. Metode 16:8 misalnya, berarti puasa 16 jam dan makan dalam jendela 8 jam. Ada juga pola 14:10 yang lebih ringan untuk pemula. Kunci utamanya adalah konsistensi, bukan durasi ekstrem. Jika baru mulai, lebih baik memilih pola yang realistis agar bisa menjadi kebiasaan.
Saat jendela makan berlangsung, sebaiknya fokus pada makanan tinggi protein, serat, serta lemak sehat. Tujuannya agar tubuh tetap mendapat nutrisi cukup dan rasa kenyang bertahan lebih lama. Pola makan seperti ini membuat intermittent fasting tidak terasa menyiksa, dan hasilnya lebih stabil.
Intermittent Fasting Akan Lebih Efektif Jika Didukung Gaya Hidup Sehat
Intermittent fasting bukan strategi instan. Untuk mempercepat metabolisme dan menurunkan lemak secara optimal, pola ini akan bekerja lebih baik jika didukung aktivitas fisik, tidur cukup, dan manajemen stres. Olahraga ringan seperti jalan cepat atau latihan beban sangat membantu memperbaiki sensitivitas insulin dan mempertahankan massa otot saat lemak menurun.
Yang perlu diperhatikan, hasil setiap orang berbeda. Faktor seperti usia, kondisi hormon, aktivitas harian, dan pola makan sebelumnya sangat memengaruhi respons tubuh. Namun jika dilakukan secara konsisten dan tetap menjaga kualitas makanan, intermittent fasting dapat menjadi cara yang efektif untuk membangun metabolisme lebih efisien dan mengurangi lemak tubuh secara bertahap.












